Mandi di laut, mandi dengan air dingin, atau
membasahi tubuh dengan kain basah untuk mendinginkan tubuh, tidak membatalkan
puasa seseorang, meskipun tubuhnya merasakan dinginnya air. Imam Abu Yusuf
memfatwakan, hal itu hukumnya tidak makruh. Karena Abu Dawud telah meriwayatkan
bahwa Rasulullah pernah menyiramkan air di kepalanya saat beliau berpuasa
karena merasa haus dan kepanasan.[1]
Ibnu Umar juga pernah membasahi pakaian dan membalutkannya di tubuhnya
saat dia berpuasa.[2] Karena hal itu bisa
membantunya dalam mengerjakan puasa dan menghilangkan kejenuhan. Masuknya
sebagian air ke dalam tubuh melalui pori-pori tidak mempengaruhi puasa; karena
yang membatalkan puasa adalah sesuatu yang masuk melalui lubang-lubang
tertentu. Imam Abu Hanifah menyebutkan hal itu untuk menunjukkan kejenuhan
dalam membuat redaksi, bukan karena ia membatalkan puasa, sebagaimana
disebutkan oleh pensyarah ad-Durru dan hasyiyahnya.[3]
[1] HR. Abdurrazaq dalam
al-Mushannif, Bab: al-Madhmadhah li ash-shâim (4/207).
[2] Lihat: Taghlîqu
at-ta'lîq, Ibnu Hajar (3/151).
[3] Hâsyiyatu Ibnu
Abidin (2/419).
Sumber: http://muslimah-modern-online.blogspot.com/2012/08/apakah-mandi-dan-berenang-di-siang-hari.html
Sumber: http://muslimah-modern-online.blogspot.com/2012/08/apakah-mandi-dan-berenang-di-siang-hari.html
Berpuasa seringkali menyisakan bau mulut yang kurang nyaman bila
tercium oleh orang lain. Meskipun demikian, dalam sebuah hadits telah
disebutkan bahwa bau mulut orang yang berpuasa bagaikan wangi misk di
sisi Allah. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Untuk meminimalisir bau mulut, seringkali kita menyikat gigi dengan pasta gigi. Dalam kondisi berpuasa, apakah kita tetap boleh menyikat gigi dengan menggunakan pasta gigi? Apakah hal ini boleh disamakan dengan kebolehan bersiwak saat berpuasa? Mari kita kaji pembahasan ini bersama.
Hukum Bersiwak Saat Berpuasa
Syaikh Shalih al-Fauzan pernah ditanya tentang hukum bersiwak ketika sedang melakukan puasa Ramadhan. Beliau memaparkan, “Tidak diragukan lagi bahwa bersiwak merupakan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dianjurkan. Bersiwak memiliki keutamaan yang besar. Terdapat berbagai riwayat shahih yang menunjukkan dianjurkannya bersiwak, dapat kita lihat pada perbuatan maupun perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Oleh karena itu, sudah seharusnya kita mengamalkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Hendaklah kita berusaha bersiwak, terlebih-lebih lagi pada saat diperlukan atau pada waktu yang disunnahkan untuk bersiwak, seperti sebelum berwudhu, ketika akan melaksanakan shalat, ketika hendak membaca al-Quran, ketika ingin menghilangkan bau mulut yang tak sedap, serta saat bangun tidur sebagaimana hal ini pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Keadaan-keadaan tadi merupakan saat yang ditekankan untuk bersiwak. Dan asalnya, siwak itu disunnahkan di setiap waktu. Orang yang berpuasa pun dianjurkan untuk bersiwak sebagaimana orang yang tidak berpuasa. Pendapat yang tepat, bersiwak dibolehkan sepanjang waktu, dianjurkan untuk bersiwak di pagi hari maupun di sore hari.
Pendapat yang menyatakan tidak bolehnya bersiwak di sore hari sebenarnya bukan berasal dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, yang tepat terdapat beberapa perkataan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengatakan,
Oleh karena itu, bersiwak itu disunnahkan bagi orang yang berpuasa maupun yang tidak berpuasa. Namun dengan tetap menjaga agar jangan terlalu kasar (tergesa-gesa) ketika bersiwak karena bisa melukai mulut dan menyebabkan keluarnya darah, atau siwak bisa merusak sesuatu yang ada di mulut . Maka, wajib bagi orang yang terjadi semacam itu untuk mengeluarkan darah atau siwak tersebut dari mulutnya. Oleh karena itu, hendaklah seseorang bersiwak dengan perlahan-lahan.[3]
Jika Siwaknya Memiliki Rasa
Sebuah pertanyaan disampaikan kepada Syekh Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Jibrin, “Apakah bersiwak dengan siwak yang memiliki rasa membatalkan puasa?”
Syaikh Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Jibrin menyampaikan jawaban, “Bersiwak boleh dilakukan saat berpuasa, dan hukumnya disunnahkan di setiap waktu. Banyak ulama yang memakruhkan bersiwak bagi orang yang berpuasa setelah waktu zawal (tergelincirnya matahari ke barat). Mereka berpendapat demikian karena bersiwak menyebabkan hilangnya bau mulut yang baunya di sisi Allah bagaikan wangi misk.
Para ulama yang meneliti lebih jauh menguatkan pendapat bahwa bersiwak saat berpuasa tidaklah makruh, bahkan dianjurkan untuk bersiwak di pagi dan sore hari.
Adapun jika siwak tersebut memiliki rasa, maka wajib bagi orang yang bersiwak untuk membuang ludahnya ke tanah atau menyekanya dengan sapu tangan. Secara umum, sesungguhnya rasa itu hanya ada di kulit siwak dan tidak selamanya akan ada pada siwak tersebut. Adapun jika siwak tersebut berasa seperti rasa salah satu jenis sayuran atau yang semisalnya, dari segi bahwa rasanya dapat terkecap dengan ludah, maka wajib bagi orang yang bersiwak tersebut untuk memuntahkan air liurnya tadi, karena jika dia sengaja menelan sesuatu dan mengecap rasanya maka puasanya batal. Wallahu a’lam.[4]
Dari fatwa beliau tersebut, dapat dipahami bahwa alasan tidak bolehnya menggunakan siwak yang memiliki rasa saat berpuasa adalah karena rasa dari siwak tersebut bisa terkecap oleh ludah dan akhirnya tertelan masuk ke tenggorokan. Padahal, telah kita ketahui bersama bahwa menelan makanan dan minuman ke dalam kerongkongan dengan sengaja termasuk salah satu pembatal puasa.
Dalam kitab Haqiqatush Shiyam, pada Pasal “Hal-hal yang Membatalkan Puasa dan yang Tidak Membatalkan Puasa”, Syaihul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan, “Pembatal-pembatal puasa ada yang berdasarkan nash dan ijma’ (kesepakatan para ulama), yaitu: makan, minum, dan berjima’ (hubungan intim dengan istri). Allah Ta’ala berfirman,
Ayat ini menunjukkan bahwa di saat tidak puasa diizinkan untuk berhubungan intim dengan istri. Maka bisa dipahami bahwa puasa haruslah menahan diri dari berhubungan intim dengan istri, makan dan minum.”[5]
Hukum Menggunakan Pasta Gigi Saat Berpuasa
Dalam hal ini, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz ditanya, “Apakah seseorang yang berpuasa boleh menggunakan pasta gigi padahal dia sedang berpuasa di siang hari?”
Beliau menjawab, “Melakukan seperti itu tidaklah mengapa selama tetap menjaga sesuatu agar tidak tertelan di kerongkongan. Sebagaimana pula dibolehkan bersiwak bagi orang yang berpuasa baik di pagi hari atau sore harinya.” [6]
Pertanyaan yang serupa juga pernah disampaikan kepada Syaikh Muhammad bin Shalih al- Utsaimin, “Apa hukum menggunakan pasta gigi bagi orang yang berpuasa di siang hari bulan Ramadan?”
Beliau menjelaskan, “Penggunaan pasta gigi bagi orang yang sedang berpuasa tidaklah mengapa jika pasta gigi tersebut tidak sampai masuk ke dalam tubuhnya (tidak sampai ia telan, pen). Akan tetapi, yang lebih utama adalah tidak menggunakannya karena pada pasta gigi terdapat rasa yang begitu kuat yang bisa jadi masuk ke dalam perut seseorang tanpa dia sadari. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Laqith bin Shobroh,
Dengan demikian, yang lebih utama bagi orang yang sedang berpuasa adalah tidak menggunakan pasta gigi. Waktu untuk menggunakan pasta gigi sebenarnya masih bisa di waktu lainnya. Jika orang yang berpuasa tersebut tidak menggunakan pasta gigi hingga waktu berbuka, maka berarti dia telah menjaga dirinya dari perkara yang dikhawatirkan merusak ibadah puasanya.”[8]
Kesimpulan
وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
“Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”[1]Untuk meminimalisir bau mulut, seringkali kita menyikat gigi dengan pasta gigi. Dalam kondisi berpuasa, apakah kita tetap boleh menyikat gigi dengan menggunakan pasta gigi? Apakah hal ini boleh disamakan dengan kebolehan bersiwak saat berpuasa? Mari kita kaji pembahasan ini bersama.
Hukum Bersiwak Saat Berpuasa
Syaikh Shalih al-Fauzan pernah ditanya tentang hukum bersiwak ketika sedang melakukan puasa Ramadhan. Beliau memaparkan, “Tidak diragukan lagi bahwa bersiwak merupakan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dianjurkan. Bersiwak memiliki keutamaan yang besar. Terdapat berbagai riwayat shahih yang menunjukkan dianjurkannya bersiwak, dapat kita lihat pada perbuatan maupun perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Oleh karena itu, sudah seharusnya kita mengamalkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Hendaklah kita berusaha bersiwak, terlebih-lebih lagi pada saat diperlukan atau pada waktu yang disunnahkan untuk bersiwak, seperti sebelum berwudhu, ketika akan melaksanakan shalat, ketika hendak membaca al-Quran, ketika ingin menghilangkan bau mulut yang tak sedap, serta saat bangun tidur sebagaimana hal ini pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Keadaan-keadaan tadi merupakan saat yang ditekankan untuk bersiwak. Dan asalnya, siwak itu disunnahkan di setiap waktu. Orang yang berpuasa pun dianjurkan untuk bersiwak sebagaimana orang yang tidak berpuasa. Pendapat yang tepat, bersiwak dibolehkan sepanjang waktu, dianjurkan untuk bersiwak di pagi hari maupun di sore hari.
Pendapat yang menyatakan tidak bolehnya bersiwak di sore hari sebenarnya bukan berasal dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, yang tepat terdapat beberapa perkataan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengatakan,
رَأَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- مَا لاَ أُحْصِى يَتَسَوَّكُ وَهُوَ صَائِمٌ
“Aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersiwak beberapa kali hingga tidak dapat kuhitung banyaknya, meskipun saat itu beliau sedang berpuasa.”[2]Oleh karena itu, bersiwak itu disunnahkan bagi orang yang berpuasa maupun yang tidak berpuasa. Namun dengan tetap menjaga agar jangan terlalu kasar (tergesa-gesa) ketika bersiwak karena bisa melukai mulut dan menyebabkan keluarnya darah, atau siwak bisa merusak sesuatu yang ada di mulut . Maka, wajib bagi orang yang terjadi semacam itu untuk mengeluarkan darah atau siwak tersebut dari mulutnya. Oleh karena itu, hendaklah seseorang bersiwak dengan perlahan-lahan.[3]
Jika Siwaknya Memiliki Rasa
Sebuah pertanyaan disampaikan kepada Syekh Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Jibrin, “Apakah bersiwak dengan siwak yang memiliki rasa membatalkan puasa?”
Syaikh Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Jibrin menyampaikan jawaban, “Bersiwak boleh dilakukan saat berpuasa, dan hukumnya disunnahkan di setiap waktu. Banyak ulama yang memakruhkan bersiwak bagi orang yang berpuasa setelah waktu zawal (tergelincirnya matahari ke barat). Mereka berpendapat demikian karena bersiwak menyebabkan hilangnya bau mulut yang baunya di sisi Allah bagaikan wangi misk.
Para ulama yang meneliti lebih jauh menguatkan pendapat bahwa bersiwak saat berpuasa tidaklah makruh, bahkan dianjurkan untuk bersiwak di pagi dan sore hari.
Adapun jika siwak tersebut memiliki rasa, maka wajib bagi orang yang bersiwak untuk membuang ludahnya ke tanah atau menyekanya dengan sapu tangan. Secara umum, sesungguhnya rasa itu hanya ada di kulit siwak dan tidak selamanya akan ada pada siwak tersebut. Adapun jika siwak tersebut berasa seperti rasa salah satu jenis sayuran atau yang semisalnya, dari segi bahwa rasanya dapat terkecap dengan ludah, maka wajib bagi orang yang bersiwak tersebut untuk memuntahkan air liurnya tadi, karena jika dia sengaja menelan sesuatu dan mengecap rasanya maka puasanya batal. Wallahu a’lam.[4]
Dari fatwa beliau tersebut, dapat dipahami bahwa alasan tidak bolehnya menggunakan siwak yang memiliki rasa saat berpuasa adalah karena rasa dari siwak tersebut bisa terkecap oleh ludah dan akhirnya tertelan masuk ke tenggorokan. Padahal, telah kita ketahui bersama bahwa menelan makanan dan minuman ke dalam kerongkongan dengan sengaja termasuk salah satu pembatal puasa.
Dalam kitab Haqiqatush Shiyam, pada Pasal “Hal-hal yang Membatalkan Puasa dan yang Tidak Membatalkan Puasa”, Syaihul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan, “Pembatal-pembatal puasa ada yang berdasarkan nash dan ijma’ (kesepakatan para ulama), yaitu: makan, minum, dan berjima’ (hubungan intim dengan istri). Allah Ta’ala berfirman,
فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ
وَابْتَغُواْ مَا كَتَبَ اللّهُ لَكُمْ وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى
يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ
الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ
‘Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah
ditetapkan Allah untukmu, serta makan dan minumlah hingga terang bagimu
benang putih dari benang hitam (yaitu fajar). Kemudian, sempurnakanlah
puasa itu sampai (datangnya) malam….’ (QS. Al-Baqarah: 187)Ayat ini menunjukkan bahwa di saat tidak puasa diizinkan untuk berhubungan intim dengan istri. Maka bisa dipahami bahwa puasa haruslah menahan diri dari berhubungan intim dengan istri, makan dan minum.”[5]
Hukum Menggunakan Pasta Gigi Saat Berpuasa
Dalam hal ini, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz ditanya, “Apakah seseorang yang berpuasa boleh menggunakan pasta gigi padahal dia sedang berpuasa di siang hari?”
Beliau menjawab, “Melakukan seperti itu tidaklah mengapa selama tetap menjaga sesuatu agar tidak tertelan di kerongkongan. Sebagaimana pula dibolehkan bersiwak bagi orang yang berpuasa baik di pagi hari atau sore harinya.” [6]
Pertanyaan yang serupa juga pernah disampaikan kepada Syaikh Muhammad bin Shalih al- Utsaimin, “Apa hukum menggunakan pasta gigi bagi orang yang berpuasa di siang hari bulan Ramadan?”
Beliau menjelaskan, “Penggunaan pasta gigi bagi orang yang sedang berpuasa tidaklah mengapa jika pasta gigi tersebut tidak sampai masuk ke dalam tubuhnya (tidak sampai ia telan, pen). Akan tetapi, yang lebih utama adalah tidak menggunakannya karena pada pasta gigi terdapat rasa yang begitu kuat yang bisa jadi masuk ke dalam perut seseorang tanpa dia sadari. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Laqith bin Shobroh,
بَالِغْ فِى الاِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ صَائِمًا
“Bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung), kecuali bila engkau sedang berpuasa.”[7]Dengan demikian, yang lebih utama bagi orang yang sedang berpuasa adalah tidak menggunakan pasta gigi. Waktu untuk menggunakan pasta gigi sebenarnya masih bisa di waktu lainnya. Jika orang yang berpuasa tersebut tidak menggunakan pasta gigi hingga waktu berbuka, maka berarti dia telah menjaga dirinya dari perkara yang dikhawatirkan merusak ibadah puasanya.”[8]
Kesimpulan
- Bersiwak disunnahkan untuk dilakukan dalam keadaan apa pun, baik sedang berpuasa ataupun tidak.
- Hukum menggunakan sikat gigi dianalogikan (diqiyaskan) dengan hukum menggunakan siwak.
- Hukum menggunakan sikat gigi dengan pasta gigi dianalogikan (diqiyaskan) dengan hukum menggunakan siwak yang memiliki rasa.
- Pada asalnya, hukum menggunakan sikat gigi dengan pasta gigi saat berpuasa adalah boleh. Namun untuk lebih berhati-hati dari tertelannya pasta gigi ke dalam kerongkongan, maka sebaiknya pasta gigi tidak digunakan ketika puasa, bisa ditunda setelah waktu berbuka tiba atau sebelum masuk waktu shubuh. Sebagai gantinya, ketika sedang berpuasa, sebaiknya menyikat gigi dilakukan tanpa memberikan pasta gigi pada sikat gigi. Wallahu a’lam.
Apakah benar tidur orang yang berpuasa itu berpahala? Apakah benar seperti itu?
Di bulan Ramadhan saat ini, kita sering mendengar ada sebagian da’i yang menyampaikan bahwa tidur orang yang berpuasa adalah ibadah. Bahkan dikatakan ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga dengan penyampaian semacam ini, orang-orang pun akhirnya bermalas-malasan di bulan Ramadhan bahkan mereka lebih senang tidur daripada melakukan amalan karena termotivasi dengan hadits tersebut. Dalam tulisan yang singkat, kami akan mendudukkan permasalahan ini karena ada yang salah kaprah dengan maksud yang disampaikan dalam hadits tadi. Semoga Allah memudahkan dan menolong urusan setiap hamba-Nya dalam kebaikan.
Derajat Hadits Sebenarnya
Hadits yang dimaksudkan,
Perowi hadits ini adalah ‘Abdullah bin Aufi. Hadits ini dibawakan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 3/1437. Dalam hadits ini terdapat Ma’ruf bin Hasan dan dia adalah perowi yang dho’if (lemah). Juga dalam hadits ini terdapat Sulaiman bin ‘Amr yang lebih dho’if dari Ma’ruf bin Hasan.
Dalam riwayat lain, perowinya adalah ‘Abdullah bin ‘Amr. Haditsnya dibawakan oleh Al ‘Iroqi dalam Takhrijul Ihya’ (1/310) dengan sanad hadits yang dho’if (lemah).
Kesimpulan: Hadits ini adalah hadits yang dho’if. Syaikh Al Albani dalam Silsilah Adh Dho’ifah no. 4696 mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits yang dho’if (lemah).
Tidur yang Bernilai Ibadah yang Sebenarnya
Setelah kita menyaksikan bahwa hadits yang mengatakan “tidur orang yang berpuasa adalah ibadah” termasuk hadits yang dho’if (lemah), sebenarnya maknanya bisa kita bawa ke makna yang benar.
Sebagaimana para ulama biasa menjelaskan suatu kaedah bahwa setiap amalan yang statusnya mubah (seperti makan, tidur dan berhubungan suami istri) bisa mendapatkan pahala dan bernilai ibadah apabila diniatkan untuk melakukan ibadah. Sebagaimana An Nawawi dalam Syarh Muslim (6/16) mengatakan,
Jadi tidur yang bernilai ibadah jika tidurnya adalah demikian.
Ibnu Rajab pun menerangkan hal yang sama, “Jika makan dan minum diniatkan untuk menguatkan badan agar kuat ketika melaksanakan shalat dan berpuasa, maka seperti inilah yang akan bernilai pahala. Sebagaimana pula apabila seseorang berniat dengan tidurnya di malam dan siang harinya agar kuat dalam beramal, maka tidur seperti ini bernilai ibadah.” (Latho-if Al Ma’arif, 279-280)
Intinya, semuanya adalah tergantung niat. Jika niat tidurnya hanya malas-malasan sehingga tidurnya bisa seharian dari pagi hingga sore, maka tidur seperti ini adalah tidur yang sia-sia. Namun jika tidurnya adalah tidur dengan niat agar kuat dalam melakukan shalat malam dan kuat melakukan amalan lainnya, tidur seperti inilah yang bernilai ibadah.
Jadi ingatlah “innamal a’malu bin niyaat”, setiap amalan tergantung dari niatnya.
Semoga Allah menganugerahi setiap langkah kita di bulan Ramadhan penuh keberkahan. Segala puji bagi Allah yang dengan segala nikmatnya, segala kebaikan menjadi sempurna. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam, wal hamdu lillahi robbil ‘alamin.
Sumber: http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2673-tidurnya-orang-yang-berpuasa-adalah-ibadah-.html
Di bulan Ramadhan saat ini, kita sering mendengar ada sebagian da’i yang menyampaikan bahwa tidur orang yang berpuasa adalah ibadah. Bahkan dikatakan ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga dengan penyampaian semacam ini, orang-orang pun akhirnya bermalas-malasan di bulan Ramadhan bahkan mereka lebih senang tidur daripada melakukan amalan karena termotivasi dengan hadits tersebut. Dalam tulisan yang singkat, kami akan mendudukkan permasalahan ini karena ada yang salah kaprah dengan maksud yang disampaikan dalam hadits tadi. Semoga Allah memudahkan dan menolong urusan setiap hamba-Nya dalam kebaikan.
Derajat Hadits Sebenarnya
Hadits yang dimaksudkan,
نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ
“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Diamnya adalah
tasbih. Do’anya adalah do’a yang mustajab. Pahala amalannya pun akan
dilipatgandakan.”Perowi hadits ini adalah ‘Abdullah bin Aufi. Hadits ini dibawakan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 3/1437. Dalam hadits ini terdapat Ma’ruf bin Hasan dan dia adalah perowi yang dho’if (lemah). Juga dalam hadits ini terdapat Sulaiman bin ‘Amr yang lebih dho’if dari Ma’ruf bin Hasan.
Dalam riwayat lain, perowinya adalah ‘Abdullah bin ‘Amr. Haditsnya dibawakan oleh Al ‘Iroqi dalam Takhrijul Ihya’ (1/310) dengan sanad hadits yang dho’if (lemah).
Kesimpulan: Hadits ini adalah hadits yang dho’if. Syaikh Al Albani dalam Silsilah Adh Dho’ifah no. 4696 mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits yang dho’if (lemah).
Tidur yang Bernilai Ibadah yang Sebenarnya
Setelah kita menyaksikan bahwa hadits yang mengatakan “tidur orang yang berpuasa adalah ibadah” termasuk hadits yang dho’if (lemah), sebenarnya maknanya bisa kita bawa ke makna yang benar.
Sebagaimana para ulama biasa menjelaskan suatu kaedah bahwa setiap amalan yang statusnya mubah (seperti makan, tidur dan berhubungan suami istri) bisa mendapatkan pahala dan bernilai ibadah apabila diniatkan untuk melakukan ibadah. Sebagaimana An Nawawi dalam Syarh Muslim (6/16) mengatakan,
أَنَّ الْمُبَاح إِذَا قَصَدَ بِهِ وَجْه اللَّه تَعَالَى صَارَ طَاعَة ، وَيُثَاب عَلَيْهِ
“Sesungguhnya perbuatan mubah, jika dimaksudkan dengannya untuk
mengharapkan wajah Allah Ta’ala, maka dia akan berubah menjadi suatu
ketaatan dan akan mendapatkan balasan (ganjaran).” Jadi tidur yang bernilai ibadah jika tidurnya adalah demikian.
Ibnu Rajab pun menerangkan hal yang sama, “Jika makan dan minum diniatkan untuk menguatkan badan agar kuat ketika melaksanakan shalat dan berpuasa, maka seperti inilah yang akan bernilai pahala. Sebagaimana pula apabila seseorang berniat dengan tidurnya di malam dan siang harinya agar kuat dalam beramal, maka tidur seperti ini bernilai ibadah.” (Latho-if Al Ma’arif, 279-280)
Intinya, semuanya adalah tergantung niat. Jika niat tidurnya hanya malas-malasan sehingga tidurnya bisa seharian dari pagi hingga sore, maka tidur seperti ini adalah tidur yang sia-sia. Namun jika tidurnya adalah tidur dengan niat agar kuat dalam melakukan shalat malam dan kuat melakukan amalan lainnya, tidur seperti inilah yang bernilai ibadah.
Jadi ingatlah “innamal a’malu bin niyaat”, setiap amalan tergantung dari niatnya.
Semoga Allah menganugerahi setiap langkah kita di bulan Ramadhan penuh keberkahan. Segala puji bagi Allah yang dengan segala nikmatnya, segala kebaikan menjadi sempurna. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam, wal hamdu lillahi robbil ‘alamin.
Sumber: http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2673-tidurnya-orang-yang-berpuasa-adalah-ibadah-.html
5 Amal Ibadah di Bulan Puasa Ramadhan – Bulan
Ramadhan merupakan bulan penuh berkah, pada bulan ini tiap amal ibadah
umat muslim balasannya akan dilipatgandakan. Betapa beruntungnya bila
kita sebagai umat islam dapat memanfaatkan momen ini sebagai ladang
pahala, dengan melaksanakan yang wajib dan mengisi kegiatan sehari-hari
dengan amal ibadah yang sunat, Inshaallah kita termasuk golongan
orang-orang beruntung.
Di Bulan Ramadhan, selain melaksanakan ibadah yang wajib seperti berpuasa dan sholat, ada beberapa amalan ibadah sunat lainnya yang dapat kita praktekan di keseharian kita. Dengan mendampingkan ibadah wajib dengan ibadah sunnah, pada akhir bulan Ramadhan kita dapat merasakan hari kemenangan (Idul Fitri) dengan penuh sukacita. Ingin tahu apa saja amalan ibadah penyempurna Ibadah puasa ini? Mari kita simak bersama.
Bahkan tidak hanya mendengar atau membaca, bila kita masih terbata-bata (belum lancar) dalam membaca Al-qur’an pun, kita akan mendapatkan pahala, diluar maupun didalam bulan Ramadhan.
Kita bisa mengajak keluarga atau bahkan sesekali kawan-kawan untuk shalat tarawih bersama sebagai bentuk silaturahmi yang berpahala juga. Maka belum afdol rasanya bila melaksanakan puasa Ramadhan tanpa melaksanakan shalat tarawih.
Shalat tarawih ini juga dijelaskan dalam sabda Nabi Muhammad saw:
Di Bulan Ramadhan, selain melaksanakan ibadah yang wajib seperti berpuasa dan sholat, ada beberapa amalan ibadah sunat lainnya yang dapat kita praktekan di keseharian kita. Dengan mendampingkan ibadah wajib dengan ibadah sunnah, pada akhir bulan Ramadhan kita dapat merasakan hari kemenangan (Idul Fitri) dengan penuh sukacita. Ingin tahu apa saja amalan ibadah penyempurna Ibadah puasa ini? Mari kita simak bersama.
1. Membaca Al-Qur’an
Seperti yang sudah sering diungkapkan bahwa ibadah pada bulan puasa pahalanya dilipatgandakan, begitu juga dengan membaca Al-Quran. Diriwayatkan, membaca Al-Quran pada bulan Ramadhan memiliki keutamaan bahwa tiap huruf yang kita baca akan mendapat pahala sebanyak 27 kali. Tidak hanya membaca saja, sekedar mendengar bacaan Al-Qur’an saja bagi umat muslim adalah pahal, maka perbanyaklah mendekatkan diri pada kegiatan-kegiatan yang berkenaan dengan bacaan Al-Qur’an selama bulan suci Ramadhan.Bahkan tidak hanya mendengar atau membaca, bila kita masih terbata-bata (belum lancar) dalam membaca Al-qur’an pun, kita akan mendapatkan pahala, diluar maupun didalam bulan Ramadhan.
2. Sedekah
Penyempurna ibadah puasa Ramadhan lainnya ialah bersedekah. Diriwayatkan dalam hadist shahih:
Rasullah ditanya: “sedekah manakah yang paling utama? beliau menjawab: Sedekah di Bulan Ramadhan.” (H.R. Turmudzi).
Maka dari itu daripada sering-sering
bermegah dengan harta yang kita miliki, lebih baik harta yang kita
miliki kita sisihkan sebagian untuk para fakir miskin yang membutuhkan.
Apalagi bulan Ramadhan juga bulan dimana amal baik dilipatgandakan
pahalanya disisi Allah SWT.
3. Shalat Tarawih
Amalan ibadah yang satu ini termasuk sunnah muakad artinya tidak wajib, namun sayang sekali pada kesempatan bulan Ramadhan dimana pahala dilipatgandakan ini kita tidak melaksanakan amalan sunnah. Maka daripada setelah berbuka dan magrib kita hanya sekedar bengong atau tidur, lebih baik melakukan shslat tarawih.Kita bisa mengajak keluarga atau bahkan sesekali kawan-kawan untuk shalat tarawih bersama sebagai bentuk silaturahmi yang berpahala juga. Maka belum afdol rasanya bila melaksanakan puasa Ramadhan tanpa melaksanakan shalat tarawih.
Shalat tarawih ini juga dijelaskan dalam sabda Nabi Muhammad saw:
“Sesungguhnya Allah telah
mewajibkan puasa Ramadhan dan aku telah mensunatkan qiyamnya (shalat di
malam harinya). karena itu, barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan dan
shalat dimalah harinya karena iman dan mengharap pahala serta ridha
Allah, maka keluarlah dosanya sebagaimana pada hari dia dilahirkan oleh
ibunya” (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi).
4. Shalat Witir
Shalat witir umumnya dilaksanakan sekaligus setelah tawarih dilakukan. Seperti tarawih, sholat witir juga hukumnya sunnah muakad dan dianjurkan oleh Nabi Muhammad saw untuk dilakukan tiap malam.
Ali r.a. berkata, bahwasannya
Nabi saw. pernah bersabda: “barang siapa tidak mengerjalan (shalat)
witir, maka bukan dari golonganku.” (H.R. Ahmad).
Begitu pentingnya shalat witir ini
terungkap seperti hadist diatas. Jadi bila kita melaksanakan shalat
tarawih, agar lebih sempurna lagi dirikanlah pula shalat witir
setelahnya, Insha Allah ibadah-ibadah ini merupakan jalan menuju
kesempurnaan puasa Ramadhan.
5. Itikaf
Ibadah lainnya yaitu adalah Beritikaf (berdiam sejenak di masjid dengan niat itikaf). ibadah ini disunahkan dilakukan pada setiap waktu, terutama pada sepuluh hari terakhir karena pada 10 terakhir Ramadhan dan malam-malam ganjil terdapat malam “lailatul Qadr.”
UMAT
Islam di penjuru dunia menyambut ibadah puasa Ramadan selama satu bulan
penuh. Namun ada satu hal yang bisa mengurangi kepercayaan diri
sesorang pada saat berpuasa. Yaitu bau mulut.
Dr. Rana Al Thalib, seorang dokter gigi umum dari dental clinic, Dubai Healthcare City, mengatakan bahwa keluhan bau mulut meningkat tajam hingga 60 persen selama bulan Ramadhan.
"Selama bulan Ramadan, beberapa orang mengalami bau mulut, karena kelenjar ludah tidak menghasilkan air liur yang cukup untuk menjaga nafas segar. Selain itu, bau mulut juga dapat disebabkan oleh jenis makanan yang dikonsumsi, dan kebiasaan gaya hidup tidak sehat lainnya," kata Dr Rana Al Thib, seperti yang dilansir laman Gulfnews, Senin (8/7).
Berikut ini beberapa tips mencegah bau mulut saat berpuasa menurut Dr. Rana Al Thalib
1. Gosok gigi dan lidah
Dua sumber utama bau mulut ialah bakteri dan sisa makanan yang membusuk, maka dari itu diperlukan perawatan yang teratur dengan cara menyikat gigi. Biasakan selama bulan Ramadan, anda menyikat gigi setelah sahur, setelah anda bangun tidur, maupun pada siang hari.
2. Minum air putih
Minum air putih sebanyak 2 gelas hingga tiga gelas saat sahur, karena dapat membantu anda terhindar dari dehidrasi. Air putih juga bermanfaat untuk meningkatkan produksi saliva ( air liur ) dalam mulut,sehingga dapat membantu menjaga kebersihan mulut anda.
3. Gunakan obat kumur anti septik
Tidak masalah jika anda menggunakan obat kumur selama bulan Ramahan, karena anda tidak akan menelan obat tersebut. Namun, jangan menggunakan obat kumur berbasis alkohol, karena dapat membuat mulut anda menjadi kering.
Anda juga dapat menggunakan benang gigi (dental floss)untuk membersihkan sisa-sisa makanan pada sela-sela gigi
4. Kurangi makanan yang banyak mengandung gula, untuk mencegah pengeroposan pada gigi, yang dapat menyebabkan bau mulut.
5. Hindari makanan yang bisa memicu bau mulut, seperti misalnya cokelat. Cokelat adalah makanan yang bersifat diuretik (merangsang pengeluaran urin). Akibatnya, mulut akan cepat mengalami kekeringan.
6. Selain air putih,minum teh hijau tanpa gula ketika berpuasa, dapat membantu mengatasi aroma mulut yang tidak sedap. Hal ini karena teh hijau mengandung zat polyphenol, yang membantu membunuh bakteri pada mulut dan saluran pernafasan.Fungsi lain dari tanaman ini adalah mengurangi peradangan pada rongga mulut dan gangguan pernafasan yang disebabkan oleh asap rokok.
Dr. Rana Al Thalib, seorang dokter gigi umum dari dental clinic, Dubai Healthcare City, mengatakan bahwa keluhan bau mulut meningkat tajam hingga 60 persen selama bulan Ramadhan.
"Selama bulan Ramadan, beberapa orang mengalami bau mulut, karena kelenjar ludah tidak menghasilkan air liur yang cukup untuk menjaga nafas segar. Selain itu, bau mulut juga dapat disebabkan oleh jenis makanan yang dikonsumsi, dan kebiasaan gaya hidup tidak sehat lainnya," kata Dr Rana Al Thib, seperti yang dilansir laman Gulfnews, Senin (8/7).
Berikut ini beberapa tips mencegah bau mulut saat berpuasa menurut Dr. Rana Al Thalib
1. Gosok gigi dan lidah
Dua sumber utama bau mulut ialah bakteri dan sisa makanan yang membusuk, maka dari itu diperlukan perawatan yang teratur dengan cara menyikat gigi. Biasakan selama bulan Ramadan, anda menyikat gigi setelah sahur, setelah anda bangun tidur, maupun pada siang hari.
2. Minum air putih
Minum air putih sebanyak 2 gelas hingga tiga gelas saat sahur, karena dapat membantu anda terhindar dari dehidrasi. Air putih juga bermanfaat untuk meningkatkan produksi saliva ( air liur ) dalam mulut,sehingga dapat membantu menjaga kebersihan mulut anda.
3. Gunakan obat kumur anti septik
Tidak masalah jika anda menggunakan obat kumur selama bulan Ramahan, karena anda tidak akan menelan obat tersebut. Namun, jangan menggunakan obat kumur berbasis alkohol, karena dapat membuat mulut anda menjadi kering.
Anda juga dapat menggunakan benang gigi (dental floss)untuk membersihkan sisa-sisa makanan pada sela-sela gigi
4. Kurangi makanan yang banyak mengandung gula, untuk mencegah pengeroposan pada gigi, yang dapat menyebabkan bau mulut.
5. Hindari makanan yang bisa memicu bau mulut, seperti misalnya cokelat. Cokelat adalah makanan yang bersifat diuretik (merangsang pengeluaran urin). Akibatnya, mulut akan cepat mengalami kekeringan.
6. Selain air putih,minum teh hijau tanpa gula ketika berpuasa, dapat membantu mengatasi aroma mulut yang tidak sedap. Hal ini karena teh hijau mengandung zat polyphenol, yang membantu membunuh bakteri pada mulut dan saluran pernafasan.Fungsi lain dari tanaman ini adalah mengurangi peradangan pada rongga mulut dan gangguan pernafasan yang disebabkan oleh asap rokok.
Menjelang bulan puasa, banyak tradisi unik yang hanya berlangsung di bulan puasa saja. Seperti kebiasaan ngabuburit sambil
belanja takjil untuk pengantar buka puasa. Nah, tak ketinggalan tentang
minuman spesial untuk berbuka puasa, menu-menu minuman manis dan
menyegarkan menjadi favorit tersendiri. Berikut beberapa minuman sedap dari berbagai daerah di Indonesia khas untuk berbuka puasa.
1. Teh Manis. Minuman
yang satu ini boleh dibilang merupakan minuman nasional, dapat dengan
mudah dijumpai dijumpai di seantero Indonesia. Es teh manis menyegarkan
atau teh manis hangat bisa menjadi pembuka untuk mengisi perut setelah
seharian tidak diisi. Mantap, menyegarkan, dan merakyat
Image : air-n-water
2. Es Pisang Ijo. Ijo atau
yang artinya warna hijau, es yang satu ini merupakan sajian asli dari
daerah Makasar, Sulawesi Selatan. Berbahan dasar pisang dengan balutan
adonan tepung berwarna kehijauan, warna hijau didapat dari daun pandan
atau air daun suji. Dicampur dengan es yang menyegarkan, es pisang ijo
ini bisa menjadi menu mantap pilihan menjelang berbuka puasa.
3. Es Kacang Merah. Rasa
manis, legit, segar, serta sehat dengan paduan kacang merah yang penuh
gizi dan menyehatkan ini berasal dari Manado. Tampilan warna merah
kacang yang dipadu dengan santan dan es serut terlihat begitu menggoda.
Bisa juga ditambahkan serutan daging kelapa muda di dalamnya.
4. Es Cendol. Es yang
satu ini dapat dengan mudah dijumpai di pinggir jalanan Ibu Kota,
sedangkan di Jawa es ini lebih mirip dengan es dawet. Es Cendol
merupakan selera nusantara, terbuat dari tepung beras berwarna hijau
yang dipadu dengan santan, gula merah, dan dinginnya es batu. Es yang
satu ini bahkan masuk dalam urutan ke-45 versi CNN sebagai salah satu
minuman terlezat di dunia
5. Es Kopyor. Es nikmat
untuk pelepas dahaga, setelah seharian berpuasa, menyegarkan tenggorokan
dengan es yang satu ini pastinya mantap! Tidak ada keterangan jelas
darimana es yang satu ini, tetapi yang jelas es ini termasuk selera
nusantara. Siapa yang belum pernah mencicipi segarnya es ini?
6. Es Teler. Menurut
beberapa sumber, es teler diciptakan di Jakarta oleh seorang pedagang es
campur gerobak di tahun 1980an. Campuran berbagai macam buah seperti
apel, pepaya, melon, alpukat, juga agar-agar, dan campuran lainnya.
Penampilannya sekilas mirip dengan es campur. Mantap dan menggoda selera
7. Es Timun Suri. Es
dengan bahan dasar buah timun suri yang dicampur dengan segarnya es
batu. Untuk rasa manis bisa ditambahkan gula cair, sirup, atau susu
sebagai penambah selera. Pas banget untuk melepas dahaga setelah
seharian berpuasa
8. Kolak. Siapa yang
tak kenal kolak? Minuman atau lebih pantasnya mungkin termasuk makanan
wajib saat berbuka puasa. Bisa disajikan dalam bentuk kolak hangat yang
nikmat atau dicampur dengan es batu yang menyegarkan. Campuran pisang,
ubi, singkong, dan nangka, serta racikan santan dan gula jawa bercampur
menjadi satu paduan sajian khas semasa bulan Ramadhan. Mantap!
Lailatul Qadar adalah salah satu malam
pada Bulan Ramadhan yang memiliki keutamaan yang sangat besar. Lalu
bagaimana cara mendapatkan keutamaan tersebut?
Pertama: Imani adanya
dan keutamaannya sesuai berita yang shohih yang sampai kepada kita.
Dengan mengimaninya saja akan mendapatkan pahala, disamping itu juga
dapat memotivasi kita untuk lebih bersemangat.
Lailatul Qadar merupakan malam yang sangat indah, penuh ketenangan, kesejahteraan, keselamatan, kedamaian dan keberkahan.
Menurut para ulama, Lailatul Qadar bisa berarti Malam Kemuliaan. Bisa juga dinamakan demikian karena pada malam tersebut turun kitab yang mulia, turun rahmat dan turun malaikat yang mulia.
ِإِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (١) “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.Lailatul Qadar juga bisa berarti malam yang penuh sesak karena ketika itu banyak malaikat turun ke dunia. Pada malam inilah, banyak para malaikat yang turun ke bumi, termasuk malaikat yang paling utama yaitu Jibril -’alaihissalaam-.
تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (٤ Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Rabb-nya untuk mengatur segala urusan.Bisa juga berarti malam penetapan takdir / qodar.
“Lailatul Qadar itu pada malam 27 atau 29, sungguh Malaikat yg turun pd saat itu ke bumi lebih banyak dari jumlah batu kerikil.” (HR Thayalisi dlm Musnad-nya no. 2545; juga Ahmad II/519; dan Ibnu Khuzaimah dlm shahih-nya II/223)
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِي(٤)أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَ(QS. Ad Dukhaan)
Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami.
Pada malam ini, segala urusan yang penuh hikmah dirinci, maksudnya segala kejadian selama setahun ke depan ditentukan dengan izin Allah yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana. Penentuan takdir pada malam tersebut adalah penentuan takdir tahunan.
Malam itu penuh keselamatan, kedamaian dan keberkahan.
سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ Malam itu (penuh) keselamatan hingga terbit fajar.(QS. Al Qadr)
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi(QS. Ad Dukhaan)
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (٢)لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (٣ Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (QS. Al Qadr)Menakjubkan, malam tersebut lebih baik daripada seribu bulan yaitu sekitar 83 tahun.
(Untuk Makna Nama Lailatul Qodr, Periksa Zaadul Maysir, 6/177, Ibnul Jauziy, Mawqi’ At Tafaasir, Asy Syamilah).
Kedua: Beribadah sesuai dengan yang dicontohkan oleh Nabi.
Sholat
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَ احْتِسَابًا غُفِرَ له مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Artinya
: Barang siapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh
keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya
yang telah lalu” [Hadits Riwayat Bukhari 4/217 dan Muslim 759]
Do’a
Disunnahkan untuk memperbanyak do’a pada malam tersebut.
Tirmidzi, Ibnu Majah dan selainnya meriwayatkan dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radliallahu ‘anha, beliau berkata,(HR. Tirmidzi nomor 3513, Ibnu Majah nomor 3850 dan dishahihkan oleh Al Albani rahimahullah dalam Shahih Ibnu Majah nomor 3105)
قلت يا رسول الله أرأيت إن علمت أي ليلة ليلة القدر ما أقول فيها ؟ قال قولي اللهم إنك عفو كريم تحب العفو فاعف عني
Aku berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apabila aku mengetahui waktu malam Al Qadr, apakah yang mesti aku ucapkan pada saat itu?” Beliau menjawab, “Katakanlah,
اَ للّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنيِّ
Allahumma innaka ‘afuwwun, tuhibbul ‘afwa, fa’fu’anni
(Yaa Allah sesungguhnya engkau Maha pemberi ampunan, suka memberi pengampunan, maka ampunilah diriku ini).”
Seorang Ulama berkata: Barang siapa yang bersungguh-sungguh mengerjakan ibadah di malam tersebut seperti shalat /qiyamullail, membaca qur`an, berdoa, berdzikir dan mengerjakan amalan-amalan baik lainnya
akan mendapatkannya dan memperoleh keuntungan yang telah Allah janjikan
bagi orang-orang yang menghidupkan malam tersebut jika dia
mengerjakannya dengan mengimani dan mengharapkan pahalanya (-red.- ikhlash karena Allah / mengharap pahala/ridho Allah bukan karena selain Allah).
Semoga kita diberi karunia oleh Allah agar bisa mendapatkan keutamaan lailatul qodar.
Senin malam, 8 Juli 2013 Pemerintah Republik Indonesia mengumunkan
bahwa awal Ramadhan 1434 H jatuh pada hari Rabu, 10 Juli 2013. Keputusan
tersebut diambil dalam sidang isbat di Kementrian Agama yang dipimpin
Menteri Agama Suryadharma Ali dan diikuti belasan organisasi masyarakat
Islam.
Awal puasa atau 1 Ramadhan 1434 Hijriyah oleh Pemerintah dan Muhammadiyah tahun 2013 ini bakal berbeda. Muhammadiyah jauh hari ini telah mengumumkan 1 Ramadhan 1434 Hijriah jatuh pada hari Selasa 9 Juni 2013.
“Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, kami tetapkan bahwa tanggal 1 Ramadhan 1434 Hijriah adalah bertepatan hari Rabu, 10 Juli 2013,” ucap Menteri Agama Suryadharma Ali, di Kementerian Agama, Senin (8/7/2013) malam.
Pada saat sidang dihadiri juga Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Dewan Masjid Indonesia. Selain itu ada belasan organisasi Islam yang hadir, seperti Nahdlatul Ulama (NU), Wahdah Islamiyah, Alwasliah, Al Itihadiyah, Lembaga Persahabatan Ormas Islam dan lainnya.
Pada sebelumnya, anggota badan Hisab dan Rukyah Planetarium Cecep Nurwendya menyimpulkan bahwa berdasar kriteria empirik astronomi, awal Ramadhan jatuh ketika ketinggian hilal di Pelabuhan Ratu, Sukabumi sebesar 0,65 derajat dengan jarak busur Bulan-Matahari sebesar 4,55 derajat, umur hilal 3 jam, 35 menit, 25 detik dan iluminasi hilal 0,18 %.
“Dengan begitu, tidak ada referensi apapun bahwa hilal Ramadhan 1434 H tanggal 8 Juli 2013 dapat teramati dari seluruh wilayah Indonesia,” ujar Cecep.
Sumber: http://www.moberita.com/berita/2013/07/08/rabu-10-juli-2013-awal-ramadhan-1434-h-3446
Awal puasa atau 1 Ramadhan 1434 Hijriyah oleh Pemerintah dan Muhammadiyah tahun 2013 ini bakal berbeda. Muhammadiyah jauh hari ini telah mengumumkan 1 Ramadhan 1434 Hijriah jatuh pada hari Selasa 9 Juni 2013.
“Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, kami tetapkan bahwa tanggal 1 Ramadhan 1434 Hijriah adalah bertepatan hari Rabu, 10 Juli 2013,” ucap Menteri Agama Suryadharma Ali, di Kementerian Agama, Senin (8/7/2013) malam.
Pada saat sidang dihadiri juga Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Dewan Masjid Indonesia. Selain itu ada belasan organisasi Islam yang hadir, seperti Nahdlatul Ulama (NU), Wahdah Islamiyah, Alwasliah, Al Itihadiyah, Lembaga Persahabatan Ormas Islam dan lainnya.
Pada sebelumnya, anggota badan Hisab dan Rukyah Planetarium Cecep Nurwendya menyimpulkan bahwa berdasar kriteria empirik astronomi, awal Ramadhan jatuh ketika ketinggian hilal di Pelabuhan Ratu, Sukabumi sebesar 0,65 derajat dengan jarak busur Bulan-Matahari sebesar 4,55 derajat, umur hilal 3 jam, 35 menit, 25 detik dan iluminasi hilal 0,18 %.
“Dengan begitu, tidak ada referensi apapun bahwa hilal Ramadhan 1434 H tanggal 8 Juli 2013 dapat teramati dari seluruh wilayah Indonesia,” ujar Cecep.
Sumber: http://www.moberita.com/berita/2013/07/08/rabu-10-juli-2013-awal-ramadhan-1434-h-3446
Puasa dapat menurunkan kecepatan metabolisme, sehingga menjadi cara
efektif mencegah penambahan berat badan yang kerap terjadi pada saat
berpuasa.
"Dengan metabolisme yang lambat, berat badan akan bertambah dengan mudah," ujar Ketua Yayasan Gema Sadar Gizi, dr Tirta Prawita Sari di Jakarta, Selasa (2/7).
Pengurus Persatuan Dokter Gizi Klinik Indonesia itu mengatakan, salah satu cara untuk mencegah penambahan berat badan saat berpuasa adalah tetap beraktivitas dan tidak memanjakan tubuh sendiri. Sebab, pada dasarnya tubuh memiliki asupan makanan yang cukup saat sahur untuk menghasilkan energi di siang hari.
"Kita perlu menjamin agar metabolisme itu tetap cepat. Sehingga, harus tetap beraktivitas. Bayangkan, apabila setelah makan sahur kemudian tidur, makanan yang dimakan akan tersimpan dalam tubuh menjadi lemak karena tidak dibakar menjadi energi," ujar Tirta.
Menurut Tirta, puasa berdampak berbeda pada status gizi orang setiap orang, namun keberhasilan menjaga berat bedan saat berpuasa dapat diukur dari berat badan dan lingkar perut seseorang. "Ada yang badannya kelihatan gemuk, namun lingkar perutnya kecil, itu bisa dikatakan berhasil dan lebih sehat dibandingkan yang kelihatannya kurus namun lingkar perutnya lebar dan cenderung membuncit," ujarnya.
Karenanya, lanjut Tirta, memilih makanan yang tinggi serat, cukup protein, cukup lemak baik, mengurangi garam, mengonsumsi makanan yang tidak terlalu matang dan memperbanyak minum air putih dapat membantu menjaga asupan energi dan keseimbangan berat badan saat berpuasa.
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/07/02/mpb3z0-kiat-jitu-jaga-berat-badan-saat-puasa
"Dengan metabolisme yang lambat, berat badan akan bertambah dengan mudah," ujar Ketua Yayasan Gema Sadar Gizi, dr Tirta Prawita Sari di Jakarta, Selasa (2/7).
Pengurus Persatuan Dokter Gizi Klinik Indonesia itu mengatakan, salah satu cara untuk mencegah penambahan berat badan saat berpuasa adalah tetap beraktivitas dan tidak memanjakan tubuh sendiri. Sebab, pada dasarnya tubuh memiliki asupan makanan yang cukup saat sahur untuk menghasilkan energi di siang hari.
"Kita perlu menjamin agar metabolisme itu tetap cepat. Sehingga, harus tetap beraktivitas. Bayangkan, apabila setelah makan sahur kemudian tidur, makanan yang dimakan akan tersimpan dalam tubuh menjadi lemak karena tidak dibakar menjadi energi," ujar Tirta.
Menurut Tirta, puasa berdampak berbeda pada status gizi orang setiap orang, namun keberhasilan menjaga berat bedan saat berpuasa dapat diukur dari berat badan dan lingkar perut seseorang. "Ada yang badannya kelihatan gemuk, namun lingkar perutnya kecil, itu bisa dikatakan berhasil dan lebih sehat dibandingkan yang kelihatannya kurus namun lingkar perutnya lebar dan cenderung membuncit," ujarnya.
Karenanya, lanjut Tirta, memilih makanan yang tinggi serat, cukup protein, cukup lemak baik, mengurangi garam, mengonsumsi makanan yang tidak terlalu matang dan memperbanyak minum air putih dapat membantu menjaga asupan energi dan keseimbangan berat badan saat berpuasa.
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/07/02/mpb3z0-kiat-jitu-jaga-berat-badan-saat-puasa
Hampir setiap tahun kaum muslimin disibukkan dengan masalah “kapan
memulai puasa dan kapan berhari raya?”. Para pemimpin dan pengurus
ormas-ormas dan lembaga-lembaga Islam disibukkan berijtihad untuk
memastikan kapan puasa tahun itu dimulai dan berakhir, sementara
masyarakat dibingungkan dengan berbagai keputusan yang dibuat oleh
ormas-ormas dan lembaga-lembaga Islam yang terkadang keputusannya
berbeda-beda. Bahkan akhir-akhir ini masyarakat sering dikacaukan oleh
seruan untuk memulai puasa atau berhari raya dengan berpedoman pada awal
puasa dan idul fitri di Saudi Arabia.
Tidak jarang karena perbedaan-perbedaan tersebut, timbul kesalahpahaman dan gesekan-gesekan diantara masyarakat. Masing-masing menganggap benar apa yang diputuskan oleh ormas atau lembaga yang diikutinya dan menganggap salah terhadap yang lain, tanpa mereka tahu apa sebetulnya yang dijadikan patokan sebagai pentuan awal dan akhir puasa oleh masing-masing ormas dan lembaga-lembaga Islam tersebut.
Pada masa Rasulullah, para sahabat dan tabi’in tidak pernah terjadi perbedaan di dalam penetapan awal Ramadhan, awal Syawal dan awal Dzulhijjah, semua didasarkan atas rukyatul hilal bil fi’li (melihat hilal dengan mata kepala) atau istikmal (menggenapkan bulan Sya’ban dan Ramadhan menjadi 30 hari) apabila rukyat tidak berhasil disebabkan karena cuaca mendung atau faktor lainnya.
Namun setelah ilmu pengetahuan mengalami kemajuan, pengertian tentang rukyatul hilal mengalami pergeseran. Ada yang memaknainya tetap seperti semula, yaitu rukyat bil fi’li dan ada yang memaknainya dengan rukyat bil’ilmi, yakni melihat hilal dengan ilmu pengetahuan atau hisab.
Dari perbedaan makna rukyatul hilal itulah maka penetapan awal Ramadhan dan awal Syawal sekarang ini paling tidak ada tiga macam cara, diantaranya adalah :
a. Penetapan dengan hisab melalui pendekatan wujudul hilal.
Artinya awal Ramadhan dan awal Syawal ditetapkan berdasarkan perhitungan hisab asalkan posisi hilal berada di atas ufuk berapa pun derajat tingginya, walaupun kurang dari 0,5 derajat, dan walaupun hilal tidak dapat dilihat dengan mata kepala, karena yang penting hilal sudah wujud. Jadi rukyatul hilal bil fi’li tidak perlu dilakukan dalam penetapan awal atau akhir bulan.
b. Penetapan dengan hisab melalui pendekatan imkanur rukyat.
Artinya awal Ramadhan dan awal Syawal ditetap-kan berdasarkan perhitungan hisab asalkan posisi hilal berada pada ketinggian yang mungkin dirukyat (imkanur rukyat). Pada umumnya, mereka yang berpendapat seperti ini menetapkan bahwa hilal yang imkan dirukyat minimal berada pada posisi dua derajat. Oleh karena itu, apabila posisi hilal kurang dari dua derajat tidak imkan dirukyat dan tidak bisa ditetapkan sebagai awal Ramadhan dan awal Syawal, sehingga awal ramadhan dan awal Syawal ditetapkan pada hari berikutnya.
c. Penetapan dengan rukyat bil fi’li.
Artinya awal ramadhan dan awal Syawal harus tetap didasarkan pada melihat bulan sabit. Hisab hanya berfungsi sebagai pemandu dalam melakukan rukyat bil fi’li agar rukyat yang dilakukan menjadi efektif. Sekalipun demikian, tidak setiap syahadah atau rukyat bil fi’li bisa diterima. Syahadah atau rukyat bil fi’li yang bisa diterima adalah apabila posisi hilal berada di atas ufuk. Apabila posisi hilal di bawah ufuk, maka harus ditolak.
Dari penjelasan di atas kita ketahui bahwa pendapat pertama dan ke dua dalam menetapkan awal dan akhir Ramadhan dengan menggunakan hisab tanpa melakukan rukyat, sedangkan pendapat ke tiga lebih mengedepankan rukyat bil fi’li, sehingga awal ramadhan dan awal Syawal baru bisa ditetapkan setelah melakukan rukyatul hilal pada malam 30 Sya’ban dan 30 Ramadhan. Apabila hilal dapat di-rukyat sekalipun kurang dari dua derajat maka awal Ramadhan dan awal Syawal dapat ditetapkan. Dan kalau tidak berhasil dirukyat maka ditetapkan hari berikutnya dengan cara istikmal (menyempurnakan umur bulan menjadi 30 hari).
Sumber: http://derisuyatma.wordpress.com/tag/cara-penetapan-awal-akhir-ramadhan/
Tidak jarang karena perbedaan-perbedaan tersebut, timbul kesalahpahaman dan gesekan-gesekan diantara masyarakat. Masing-masing menganggap benar apa yang diputuskan oleh ormas atau lembaga yang diikutinya dan menganggap salah terhadap yang lain, tanpa mereka tahu apa sebetulnya yang dijadikan patokan sebagai pentuan awal dan akhir puasa oleh masing-masing ormas dan lembaga-lembaga Islam tersebut.
Pada masa Rasulullah, para sahabat dan tabi’in tidak pernah terjadi perbedaan di dalam penetapan awal Ramadhan, awal Syawal dan awal Dzulhijjah, semua didasarkan atas rukyatul hilal bil fi’li (melihat hilal dengan mata kepala) atau istikmal (menggenapkan bulan Sya’ban dan Ramadhan menjadi 30 hari) apabila rukyat tidak berhasil disebabkan karena cuaca mendung atau faktor lainnya.
Namun setelah ilmu pengetahuan mengalami kemajuan, pengertian tentang rukyatul hilal mengalami pergeseran. Ada yang memaknainya tetap seperti semula, yaitu rukyat bil fi’li dan ada yang memaknainya dengan rukyat bil’ilmi, yakni melihat hilal dengan ilmu pengetahuan atau hisab.
Dari perbedaan makna rukyatul hilal itulah maka penetapan awal Ramadhan dan awal Syawal sekarang ini paling tidak ada tiga macam cara, diantaranya adalah :
a. Penetapan dengan hisab melalui pendekatan wujudul hilal.
Artinya awal Ramadhan dan awal Syawal ditetapkan berdasarkan perhitungan hisab asalkan posisi hilal berada di atas ufuk berapa pun derajat tingginya, walaupun kurang dari 0,5 derajat, dan walaupun hilal tidak dapat dilihat dengan mata kepala, karena yang penting hilal sudah wujud. Jadi rukyatul hilal bil fi’li tidak perlu dilakukan dalam penetapan awal atau akhir bulan.
b. Penetapan dengan hisab melalui pendekatan imkanur rukyat.
Artinya awal Ramadhan dan awal Syawal ditetap-kan berdasarkan perhitungan hisab asalkan posisi hilal berada pada ketinggian yang mungkin dirukyat (imkanur rukyat). Pada umumnya, mereka yang berpendapat seperti ini menetapkan bahwa hilal yang imkan dirukyat minimal berada pada posisi dua derajat. Oleh karena itu, apabila posisi hilal kurang dari dua derajat tidak imkan dirukyat dan tidak bisa ditetapkan sebagai awal Ramadhan dan awal Syawal, sehingga awal ramadhan dan awal Syawal ditetapkan pada hari berikutnya.
c. Penetapan dengan rukyat bil fi’li.
Artinya awal ramadhan dan awal Syawal harus tetap didasarkan pada melihat bulan sabit. Hisab hanya berfungsi sebagai pemandu dalam melakukan rukyat bil fi’li agar rukyat yang dilakukan menjadi efektif. Sekalipun demikian, tidak setiap syahadah atau rukyat bil fi’li bisa diterima. Syahadah atau rukyat bil fi’li yang bisa diterima adalah apabila posisi hilal berada di atas ufuk. Apabila posisi hilal di bawah ufuk, maka harus ditolak.
Dari penjelasan di atas kita ketahui bahwa pendapat pertama dan ke dua dalam menetapkan awal dan akhir Ramadhan dengan menggunakan hisab tanpa melakukan rukyat, sedangkan pendapat ke tiga lebih mengedepankan rukyat bil fi’li, sehingga awal ramadhan dan awal Syawal baru bisa ditetapkan setelah melakukan rukyatul hilal pada malam 30 Sya’ban dan 30 Ramadhan. Apabila hilal dapat di-rukyat sekalipun kurang dari dua derajat maka awal Ramadhan dan awal Syawal dapat ditetapkan. Dan kalau tidak berhasil dirukyat maka ditetapkan hari berikutnya dengan cara istikmal (menyempurnakan umur bulan menjadi 30 hari).
Sumber: http://derisuyatma.wordpress.com/tag/cara-penetapan-awal-akhir-ramadhan/
Di Bulan Ramadhan, Setiap amalan dan kebaikan akan menjadikan Hidayah
dan tauladan bagi dirinya sendiri. Begitupun dengan segala bentuk
perbuatan tidak terpuji pasti akan mendapat balasan yang setimpal ,
Contohnya mencuri sendal.
So pastinya bagi pembaca yang rutin pergi ke masjid, pasti pernah mengalami Peristiwa Kecolongan sandal.
Memang sih kelihatannya sepele, Bagi yang menganggapnya tuntas dan ikhlas, hal tersebut adalah lumrah. Tetapi walaupun begitu jangan berharap banyak apabila hal tersebut terjadi berkali-kali dengan terus membiarkan pelakunya lolos tanpa melakukan upaya pencegahan.
Menurut penilaian saya, kebanyakan pencuri sandal adalah orang yang seiman dengan kita, dengan karakter seperti muslim yang melakukan ibadah dimasjid pada umumnya. Si pencuri bukanlah orang jahat seperti yang di ceritakan di sinetron maupun film-film kartun, Tetapi mungkin pencuri sendal mempunyai motto tersendiri dengan motif yang diperbuat. Karena terlalu seringnya mendengarkan ceramah agama yang berbunyi "Ambillah sesuatu yang baik, buanglah yang jelek". Sehingga pencurian sandal adalah hal yang sangat diuntungkan akibat berkurangnya pemahaman agama yang kurang (*Karena sandalnya jelek dan hendak dibuang, Lantas pencuri ini mencari penggantinya yang harus lebih layak pakai dan lebih bagus).
Apalagi dibulan puasa banyak aktivitas yang mengharuskan kita turun ke masjid untuk beribadah. Begitu jengkelnya apabila kita mengetahui sandal yang kita pakai seusai sholat taraweh raib begitu saja dari pandangan. Bukan main malunya apabila kita pulang dalam keadaan "nyeker" tanpa memakai sandal, sampai timbul suatu pemikiran untuk mencuri sendal milik orang lain sebagai bentuk tebusan.
Nah bagi orang mukmin, Alangkah baiknya tidak menuruti kemauan tersebut, mengingat kita hanya akan sama bodohnya dengan pencuri sendal.
Wassalam
Sumber: http://www.blogermie.com/2012/07/tips-menghindari-kemalingan-sandal-saat-sholat-tarawih.html
So pastinya bagi pembaca yang rutin pergi ke masjid, pasti pernah mengalami Peristiwa Kecolongan sandal.
Memang sih kelihatannya sepele, Bagi yang menganggapnya tuntas dan ikhlas, hal tersebut adalah lumrah. Tetapi walaupun begitu jangan berharap banyak apabila hal tersebut terjadi berkali-kali dengan terus membiarkan pelakunya lolos tanpa melakukan upaya pencegahan.
Menurut penilaian saya, kebanyakan pencuri sandal adalah orang yang seiman dengan kita, dengan karakter seperti muslim yang melakukan ibadah dimasjid pada umumnya. Si pencuri bukanlah orang jahat seperti yang di ceritakan di sinetron maupun film-film kartun, Tetapi mungkin pencuri sendal mempunyai motto tersendiri dengan motif yang diperbuat. Karena terlalu seringnya mendengarkan ceramah agama yang berbunyi "Ambillah sesuatu yang baik, buanglah yang jelek". Sehingga pencurian sandal adalah hal yang sangat diuntungkan akibat berkurangnya pemahaman agama yang kurang (*Karena sandalnya jelek dan hendak dibuang, Lantas pencuri ini mencari penggantinya yang harus lebih layak pakai dan lebih bagus).
Apalagi dibulan puasa banyak aktivitas yang mengharuskan kita turun ke masjid untuk beribadah. Begitu jengkelnya apabila kita mengetahui sandal yang kita pakai seusai sholat taraweh raib begitu saja dari pandangan. Bukan main malunya apabila kita pulang dalam keadaan "nyeker" tanpa memakai sandal, sampai timbul suatu pemikiran untuk mencuri sendal milik orang lain sebagai bentuk tebusan.
Nah bagi orang mukmin, Alangkah baiknya tidak menuruti kemauan tersebut, mengingat kita hanya akan sama bodohnya dengan pencuri sendal.
Lalu apa yang mesti dilakukan untuk menghindari Kemalingan sandal waktu dimasjid?
Ini adalah beberapa tips dari pengalaman saya pribadi, apa yang sobat lakukan berikut ini adalah syarat penting untuk menghindari maling sandal di masjid:- Pergunakan Bakiak 3 penumpang. Sebenarnya ini adalah cara licik, tapi begitu sobat mencobanya, dijamin si pencuri akan ilfill dan mengurungkan niatnya karena bentuknya yang dibilang aneh. Tapi kekurangannya ialah sobat harus membonceng 2 orang sekaligus untuk mengoperasikannya.
- Desain sendal anda hingga berbentuk kotak amal Cara ini efektif untuk mereka yang mempunyai betis besar. Disamping terhindar dari aksi pencurian, dijamin sobat akan mendapatkan tambahan surplus berupa sumbangan dari jamaah masjid yang lain
- Pergunakan sendal yang mempunyai beda ukuran Misalkan sendal kiri berukuran 38, sendal kanan berukuran 41. Atau dengan sedikit sentuhan artistik, sandal sebelah kanan warna pink dengan corak bunga matahari, sebelah kiri warna kuning dengan hiasan kepala tengkorak. Atau jika lebih cermat lagi, sobat dapat memakai sandal yang kanan dua-duanya atau kiri dua-duanya
- Jangan memakai sandal branded Sendal brandes adalah target penting bagi si pencuri. Jika terpaksa memakai sandal branded, simpanlah sandal tersebut di tempat yang berjauhan, misalnya sandal sebelah kanan disimpan di mesjid istiqlal, sandal yang sebelah kirinya sobat simpan di stasiun kereta api terdekat.
- Menggunakan aksesoris lucu penghias sandal Sebagai pengingat memori sobat karena jumlah jamaah sholat yang banyak, biasanya pemilik sandal akan sering lupa dengan sandal yang di pergunakan. Tidak ada salahnya jika selalu menenteng rantai besi yang panjang, sobat dapat merantai sandal merangkainya pada badan. Begitu sandal hendak dicuri, Sontak akan mendapat tanda berupa tarikan. Kalau merasa ribet. Sobat juga bisa mempergunakan gembok kapal selam untuk menguncinya
- Tips paling jitu adalah : Pakailah sepatu, sehingga dijamin tidak akan pernah kehilangan sandal..
Wassalam
Sumber: http://www.blogermie.com/2012/07/tips-menghindari-kemalingan-sandal-saat-sholat-tarawih.html
Berbagai macam cara dilakukan oleh umat Muslim di Indonesia untuk
menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Berbagai macam ritual dan
tradisi Ramadhan unik pun dilakukan. Diantaranya mandi untuk mensucikan
diri, menziarahi makam kerabat serta leluhur sampai tradisi memukul
bedug. Namun ternyata bukan hanya Indonesia yang memiliki tradisi menyambut datangnya bulan puasa, beberapa negara lainnya juga memiliki
tradisi unik yang hanya berlangsung saat Ramadhan akan tiba.
Jepang

Dalam menyambut datangnya bulan puasa, umat Muslim Jepang akan saling berbagi kebahagiaan dengan saudaranya sesama Muslim. Islamic Centre Jepang misalnya, telah membentuk semacam panitia Ramadhan yang bertugas menyusun kegiatan selama bulan puasa, mulai dari dialog keagamaan, majelis taklim, shalat tarawih berjamaah, penerbitan buku-buku keislaman dan segala hal yang terkait dengan pelaksanaan ibadah puasa. Panitia juga menerbitkan jadwal puasa dan mendistribusikannya ke rumah-rumah keluarga Muslim maupun ke Masjid-Masjid. Jadwal puasa ini juga dibagikan ke restoran-restoran halal di seantero Jepang. Panitia ini mulai bekerja ketika telah muncul hilal dan berakhir pada saat Idul Fitri. Jika tidak nampak hilal tanda awal puasa dimulai, maka panitia mengikuti ketetapan hilal Malaysia, negara Muslim terdekat.
Mesir

Umat Muslim di Kairo, Mesir memiliki tradisi unik untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Mereka akan memasang lampu tradisional di setiap rumah yang disebut dengan lampu Fanus. Oleh karena itu, banyak warga Kairo yang berbondong-bondong berbelanja lampu saat menjelang bulan Ramadhan tiba. Tradisi semacam ini telah dimulai sejak lama yakni dari zaman Dinasti Fattimiyah. Ketika itu lampu Fanus dipasang untuk menyambut kedatangan pasukan Raja yang datang berkunjung menjelang datangnya bulan Ramadhan.
Palestina

Selain di Mesir, tradisi menyalakan lampu ketika datang bulan Ramadhan juga dimiliki oleh warga Palestina. Setap bulan Ramadhan tiba, mereka akan memasang lampu Ramadhan ini di masing-masing rumah dan di sepanjang kota.
Nigeria

Berbeda dengan Nigeria, negara Afrika ini memiliki kebiasaan yang berbeda. Mereka akan menyambut datangnya bulan puasa dengan cara berdakwah. Mereka akan pergi secara berombongan ke seluruh pelosok negeri untuk menyiarkan Islam.
Irak

Lain halnya dengan di Baghdad, Irak. Umat Muslim disana akan menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan berbelanja di pasar Shorja (pasar tertua di Irak). Dimana pasar ini hanya ramai ketika datang bulan puasa dan waktu buka pasar hanya dari sore hari sampai menjelang malam. Banyak barang dagangan unik yang dapat dijumpai di pasar ini, diantaranya jajanan untuk menu buka puasa sampai perlengkapan pendukung ibadah lainnya.
Prancis

Di Prancis tepatnya di Couronne, dimana daerah ini banyak didiami oleh imigran asal Arab, juga ada tradisi berbelanja berbagai macam pernak pernik untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Dan jalan Pierre Tumbot lah yang paling terkenal ramai yang menjual berbagai macam pernak pernik tersebut.
Italia

Sementara di Roma, Italia, walaupun mayoritas warga kota ini bukanlah umat Muslim, kota ini juga mempunyai tradisi unik menyambut bulan suci Ramadhan. Ketika Ramadhan tiba, banyak panganan khas yang memiliki cita rasa manis serta kurma juga dapat ditemukan dengan mudah. Selain itu di La Grande Mosche (Masjid Agung di Roma) aktifitas menyambut datangnya bulan puasa akan nampak sekali.
Austria

Menjelang bulan suci Ramadhan, umat Muslim di negara kelahiran Alfred Riedl ini biasanya menggelar kampanye pengumpulan paket lebaran untuk keluarga miskin dan hadiah lebaran untuk anak-anak yatim piatu di Palestina. Kampanye ini dikordinir oleh organisasi kemanusiaan Palestina yang ada di Austria. Kampanye yang diberi nama Feeding Fasting Palestinians ini mendapat sambutan positif dari umat Muslim Austria. Mereka berlomba-lomba mengeluarkan sebagian hartanya untuk saudara seiman mereka di Palestina. Untuk menyebarluaskan kampanye bantuan bagi warga Palestina ini, warga Muslim Austria menggunakan berbagai cara, seperti penyebaran poster, pemasangan iklan dan jasa pos. Semua bantuan nantinya akan dikirimkan melalui lembaga-lembaga sosial yang beroperasi di wilayah Palestina.
Albania

Negara lainnya di Eropa yakni Albania juga memiliki tradisi tersendiri guna menyambut datangnya bulan puasa. Setiap datang bulan Ramadhan mereka akan menggelar kesenian yang dinamakan dengan Lodra. Kesenian ini mirip dengan tradisi memukul bedug di Nusantara. Namun yang membedakan, kesenian beduk Lodra Albania ini menggunakan dua buah tabung dimana masing-masing menggunakan kulit kambing dan domba. Pemukulnya sendiri menggunakan dua buah stik yang berbeda sebagai alat pemukulnya sehingga akan menghasilkan dua jenis suara yang berbeda pula. Inilah yang membuat beduk Albania ini khas dibanding beduk di negara kita. Lodra akan dikombinasikan dengan perkusi serta alat tiup lainnya, sehingga Lodra nampak mirip dengan iringan musik marching band. Seniman Lodra terkadang juga diundang khusus untuk mengiring sahur atau biasa disebut dengan Syfyr dan buka puasa atau Iftar.
Sumber: http://www.jakartapress.com/detail/read/10219/tradisi-unik-menyambut-ramadhan-di-berbagai-belahan-dunia
Jepang

Dalam menyambut datangnya bulan puasa, umat Muslim Jepang akan saling berbagi kebahagiaan dengan saudaranya sesama Muslim. Islamic Centre Jepang misalnya, telah membentuk semacam panitia Ramadhan yang bertugas menyusun kegiatan selama bulan puasa, mulai dari dialog keagamaan, majelis taklim, shalat tarawih berjamaah, penerbitan buku-buku keislaman dan segala hal yang terkait dengan pelaksanaan ibadah puasa. Panitia juga menerbitkan jadwal puasa dan mendistribusikannya ke rumah-rumah keluarga Muslim maupun ke Masjid-Masjid. Jadwal puasa ini juga dibagikan ke restoran-restoran halal di seantero Jepang. Panitia ini mulai bekerja ketika telah muncul hilal dan berakhir pada saat Idul Fitri. Jika tidak nampak hilal tanda awal puasa dimulai, maka panitia mengikuti ketetapan hilal Malaysia, negara Muslim terdekat.
Mesir

Umat Muslim di Kairo, Mesir memiliki tradisi unik untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Mereka akan memasang lampu tradisional di setiap rumah yang disebut dengan lampu Fanus. Oleh karena itu, banyak warga Kairo yang berbondong-bondong berbelanja lampu saat menjelang bulan Ramadhan tiba. Tradisi semacam ini telah dimulai sejak lama yakni dari zaman Dinasti Fattimiyah. Ketika itu lampu Fanus dipasang untuk menyambut kedatangan pasukan Raja yang datang berkunjung menjelang datangnya bulan Ramadhan.
Palestina

Selain di Mesir, tradisi menyalakan lampu ketika datang bulan Ramadhan juga dimiliki oleh warga Palestina. Setap bulan Ramadhan tiba, mereka akan memasang lampu Ramadhan ini di masing-masing rumah dan di sepanjang kota.
Nigeria

Berbeda dengan Nigeria, negara Afrika ini memiliki kebiasaan yang berbeda. Mereka akan menyambut datangnya bulan puasa dengan cara berdakwah. Mereka akan pergi secara berombongan ke seluruh pelosok negeri untuk menyiarkan Islam.
Irak

Lain halnya dengan di Baghdad, Irak. Umat Muslim disana akan menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan berbelanja di pasar Shorja (pasar tertua di Irak). Dimana pasar ini hanya ramai ketika datang bulan puasa dan waktu buka pasar hanya dari sore hari sampai menjelang malam. Banyak barang dagangan unik yang dapat dijumpai di pasar ini, diantaranya jajanan untuk menu buka puasa sampai perlengkapan pendukung ibadah lainnya.
Prancis

Di Prancis tepatnya di Couronne, dimana daerah ini banyak didiami oleh imigran asal Arab, juga ada tradisi berbelanja berbagai macam pernak pernik untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Dan jalan Pierre Tumbot lah yang paling terkenal ramai yang menjual berbagai macam pernak pernik tersebut.
Italia

Sementara di Roma, Italia, walaupun mayoritas warga kota ini bukanlah umat Muslim, kota ini juga mempunyai tradisi unik menyambut bulan suci Ramadhan. Ketika Ramadhan tiba, banyak panganan khas yang memiliki cita rasa manis serta kurma juga dapat ditemukan dengan mudah. Selain itu di La Grande Mosche (Masjid Agung di Roma) aktifitas menyambut datangnya bulan puasa akan nampak sekali.
Austria

Menjelang bulan suci Ramadhan, umat Muslim di negara kelahiran Alfred Riedl ini biasanya menggelar kampanye pengumpulan paket lebaran untuk keluarga miskin dan hadiah lebaran untuk anak-anak yatim piatu di Palestina. Kampanye ini dikordinir oleh organisasi kemanusiaan Palestina yang ada di Austria. Kampanye yang diberi nama Feeding Fasting Palestinians ini mendapat sambutan positif dari umat Muslim Austria. Mereka berlomba-lomba mengeluarkan sebagian hartanya untuk saudara seiman mereka di Palestina. Untuk menyebarluaskan kampanye bantuan bagi warga Palestina ini, warga Muslim Austria menggunakan berbagai cara, seperti penyebaran poster, pemasangan iklan dan jasa pos. Semua bantuan nantinya akan dikirimkan melalui lembaga-lembaga sosial yang beroperasi di wilayah Palestina.
Albania

Negara lainnya di Eropa yakni Albania juga memiliki tradisi tersendiri guna menyambut datangnya bulan puasa. Setiap datang bulan Ramadhan mereka akan menggelar kesenian yang dinamakan dengan Lodra. Kesenian ini mirip dengan tradisi memukul bedug di Nusantara. Namun yang membedakan, kesenian beduk Lodra Albania ini menggunakan dua buah tabung dimana masing-masing menggunakan kulit kambing dan domba. Pemukulnya sendiri menggunakan dua buah stik yang berbeda sebagai alat pemukulnya sehingga akan menghasilkan dua jenis suara yang berbeda pula. Inilah yang membuat beduk Albania ini khas dibanding beduk di negara kita. Lodra akan dikombinasikan dengan perkusi serta alat tiup lainnya, sehingga Lodra nampak mirip dengan iringan musik marching band. Seniman Lodra terkadang juga diundang khusus untuk mengiring sahur atau biasa disebut dengan Syfyr dan buka puasa atau Iftar.
Sumber: http://www.jakartapress.com/detail/read/10219/tradisi-unik-menyambut-ramadhan-di-berbagai-belahan-dunia

Kata Mutiara Ucapan Selamat Puasa 2013 - 1434 H - Dengan datangnya ramadhan maka umat islam di wajibkan untuk berpuasa sebulan penuh untuk membersihkan diri mereka dari dosa-dosa yang perna mereka lakukan di dunia ini. Maka untuk itulah kami memberikan Kata Mutiara Ucapan Selamat Puasa 1434 H tahun 2013 buat kamu semua yang ingin mengucapkan selamat puasa buat teman dan keluarga anda yang menjalankan puasa nantinya sob.
Untuk kata mutiara puasa 2013 anda bisa langsung melihat di bawah ini untuk koleksi kata kata mutiara puasa tersebut.
Satu tahun tidak terasa
Ramadhan 2013 telah kembali kengunjungi kita
Semoga yang dilalui dan dilakukan
Menjadikan kebaikan di bulan suci ini
Marhaban yaa Ramadhan
Mohon Maaf Lahir dan Bathin
Maaf kalo selama ini aku suka bikin kamu kesal.
Jujur juga, memang aku gak gampang ngertiin kamu.
Tapi aku 100% cinta kamu.
Met Puasa, maafkan aku lahir dan batin ya.
I Love U.
11 bln banyak kata sudah di ucapkan
dan dilontarkan tak semua menyejukan
11 bln banyak prilaku yang sudah dibuat
dan diciptakan tak semua menyenangkan
11 bln banyak keluhan, kebencian, kebohongan
menjadi bagian dari diri
Mari kita memaafkan, mohon maaf lahir dan batin
Bila hati saling terpaut rasa cinta terjalin indah
Bila salah & Khilaf telah terjadi maka Mohon Maaf
Lahir & Batin atas kesalahan,
“Marhaban Ya Ramadhan”
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1433 H
Semoga kita selalu diberkahi dibulan yang penuh mahrifah
Manusia tak pernah Luput dari salah dan hilap
karena manusai bukan mahkluk yang sempurna
di bulan yang suci ini mari kita bermaafan
agar tak ada dendam dan rasa dengki
marhaban ya ramadhan
mohon maaf lahir batin
Marhaban ya Ramadhan,
semoga bulan ini penuh BBM (Bulan Barokah dan Maghfirah)
mari kita PREMIUM (Pre Makan dan Minum)
serta SOLAR (Sholat Lebih Rajin ), dan
MINYAK TANAH (Meningkatkan Iman dan Banyak Tahan Nafsu Amarah)
serta PERTAMAX (Perangi Tabiat Maksiat)
Mohon Maaf Lahir dan Bathin
jika hati seputih awan jangan biarkan ia mendung.,
jika hati seindah bulan hiasi dengan senyuman.,
marhaban ya ramadhan.,
selamat menunaikan ibadah puasa mohon maaf lahir dan bathin…
Esok adalah harapan sekarang adalah pengalaman kemarin adalah kenangan…yang tak luput dari kekhilafan mohon maaf lahir dan Batin., Semoga RAMADHAN 2013 kali ini lebih baik dari RAMADHAN 2013 tahun lalu.. amin….
Dalam kerendahan hati ada ketinggian budi.
Dalam kemiskinan harta ada kekayaan jiwa.
Hidup ini terasa indah jika ada maaf.
Taqabalallahu Minna Waminkum…
Apa kbr sayangku, cintaku, permaisuriku, bidadariku, manisku, cantikku, rembulan cintaku, bintang kejoraku, matahariku, pelangi hatiku, melatiku, peri cantikku, mahadewiku, my sweety, my honey, my edelweiss, my heart, my love, i just wanna say i love u, met puasa ya.. smg Allah mnerima puasa qta..
Ada raksasa bLi puLsa..
Ga krasa dah mw puasa…
Brung kk Tua nempLok dijendeLa
jgn Lpa perbnyk pahaLa..
Ada pepaya dmkan jerapah..
Maf’n aq ya klo pny sLah…
happy ramadhan !
Perkataan yg indah adlh ALLAH
Lagu yg merdu adlh ADZAN
Media yg terbaik adlh AL QURAN
Senam yg sehat adlh SHALAT
Diet yg sempurna adlh PUASA
Kebersihan yg menyegarkan adlh WUDHU
Perjalanan yg indah adlh HAJI
Khayalan yg baik adlh ingat akan DOSA&TAUBAT
Marhaban ya rhamadan… ya Allah, kusaMbut dtg’y buLan pEnuh ampUnanmu dg sUka dLam diri beRlumUr doSa, bErharap maMpu m’jaLankn smw pErintahmu dan kembaLi fitrah. Maafkan khilafku, ikhlaskan salahku, [nama pacar kamu] yg kucintai dg hati dan sepenuh hati karnaNya… smg tiap langkah kaki kita mdptkn ridloNya…selamat Ramadhan 1434 H
eLu MeMaNg SoBaT gUe YaNg TeRbAiK
sAmPaI tErKaDaNg GaK kErAsA sEenAkNyA
gUe NgAtAiN lUe n NgEjEkIn Lu SeMaUnYa
MaAfiN gUe BuKaN mAksUd NgErEnDaHiN
jUsTrU kArEnA lUe AdAlAh SePeRtI
bAgIaN dArI dIrI gUe
MeT pUaSa Ya!
Ayah dan Ibu sudah menukar seluruh jiwa
semata untuk kebahagian aku
Dan sampai saat ini belum tentu aku bisa
mengganti dengan kebahagian untuk Ayah dan Ibu berdua.
Selamat Beribadah Puasa, Ayah, Ibu
Mohon maaf lahir dan bathin.
Jika pedang lukai tubuh pastikan ada harapan sembuh
Jika lisan melukai hati dimana obat hendak dicari
Jalan-jalan beli sorban
Marhaban ya ramadhan
Jalan-jalan beli bakwan
Marhaban ya ramadhan
Biar mata tidak bertatap
Ingin kata aku ucap
Marhaban ya ramdhan
Buatmu yang jaun dinegeri jiran
Tok.. tok.. tok.. !!!
Assalamu'alaikum...
Permisi... Cuma mau minta maaf atas kesalahan yang pernah saya buat ma situ yang disengaja maupun tidak disengaja. Kan dah mau puasa..
Semoga amal ibadah amal ibadah kita diterima yah.. Minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan bathin..
Pamit yah...
Mau ke HaPe sebelah..
Assalamu'alaikum ^_^
Sajadah indah berseri, jadi hiasan di hari akbar nan suci.
Sms datang pengganti diri, tanda ingat silaturahmi
Taqobalallahu ya Karim, mohon maaf lahir dan bathin
Marhaban ya ramadhan 1434 H.
Sebentar lagi ramadhan, KAWIN yuk.. !!!
K = kurangi dosa
A = awali perbuatan dengan do'a
W = waktunya tambah pahala
I = ingat hidup hanya sementara
N = niati untuk masuk surga
Kirim ke yang laen ya biar KAWIN rame-rame
Mungkin hatiku ngga' sebening XL atau secerah Mentari
Fren aku minta SimPaTI-mu, Bebaskan aku dengan maafmu
Agar aku lega dengan minta maaf
Selamat menyambut bulan puasa, mohon maaf lahir dan bathin
Walau jarak terbentang, walau jasad tak dapat bersua
moga kata maaf yang tulus ini dapat menghapus khilaf dan salah
Dengan datangnya ramadhan 1434H, moga ibadah kita diterima Alla
Mohon maaf lahir bathin.
Kain sutera jadikan selendang
baju terbuat kain sutin
Bulan puasa telah datang
maaf lahir & bathin
Saat lisan tak terjaga, ada hati yang terluka
Saat khilaf nodai jiwa, ada rasa yang tersakiti
Saat ramadhan berangsur tiba, ku mohon maaf sucikan jiwa
Dengan ini semoga menjadi info yang bermanfaat buata anda semua, semoga Kata Mutiara Ucapan Selamat Puasa 2013 - 1434 H bisa menjadi hal yang lebih baik lagi sob.
Sumber: http://rajagombalgokil.blogspot.com/2013/06/kata-mutiara-ucapan-selamat-puasa-2013.html
Ada banyak hal yang harus diperhatikan dalam penyambutan Ramadhan, diantaranya:
Niat yang baik
Agar
dalam beribadah Ramadhan menjadi indah hendaknya semua kita menanamkan
niat yang baik dan tekad yang kuat untuk menjadikan hari-hari dan
malam-malam Ramadhan nanti sebagai ajang untuk meningkatkan ketaatan
kepada Allah ta'ala dan menjadikannya sebagai momentum termahal
untuk menambahkan segala amal baik dan ketaatan serta menjauhi segala
keburukan yang selama ini sangat akrab bahkan melekat dengan diri kita.
Melakukan Taubat
Kenapa kita harus melakukan taubat? Bukankah taubat itu harus dilakukan setiap saat? Benar, kita harus salalu bertaubat kepada Allah karena kita tidak pernah lepas dari perbuatan dosa. Namun saat kita akan bertemu Ramadhan sebagai bulan di dalamnya penuh rahmat dan peluang amal shalih terbentang luas, sehinggga bagi orang yang selama ini gemar maksiat bagaimana dia bisa memanfaatkannya secara optimal bila belum mulai bertaubat? Karena segeralah bertaubat sebelum ajal yang tidak seorang pun tau kapan akan menjemputnya. Taubat harus dilakukan dengan tulus, benar dengan diiringi amal shalih dan bertekad kuat untuk tidak kembali melakukannya lagi.
Melatih Diri
Kenapa kita harus melakukan taubat? Bukankah taubat itu harus dilakukan setiap saat? Benar, kita harus salalu bertaubat kepada Allah karena kita tidak pernah lepas dari perbuatan dosa. Namun saat kita akan bertemu Ramadhan sebagai bulan di dalamnya penuh rahmat dan peluang amal shalih terbentang luas, sehinggga bagi orang yang selama ini gemar maksiat bagaimana dia bisa memanfaatkannya secara optimal bila belum mulai bertaubat? Karena segeralah bertaubat sebelum ajal yang tidak seorang pun tau kapan akan menjemputnya. Taubat harus dilakukan dengan tulus, benar dengan diiringi amal shalih dan bertekad kuat untuk tidak kembali melakukannya lagi.
Melatih Diri
Melatih
dan membiasakan diri kita untuk melakukan perbuatan baik sebelum
datangnya bulan Ramadhan, khususnya berpuasa, bersedekah, tilawah
Al-Quran dan qiyamullail. akan terasa mudah dan ringan dalam
melaksanakan segala amalan di bulan Ramadhan bila kita melatih dan
membiasakan diri kita untuk melakukan amalan terutama yang bersinggungan
langsung dengan ibadah di bulan Ramadhan nanti. karena Rasulullahshalallahu 'alaihi wasallama dan
juga para shabatanya senantiasa mempersiapkan diri dan membiasakan
amalan tersebut sebelum bertemu langsung bulan yang selalu dirindukan
ini.
Memahami Mulianya Waktu
Dalam Islam dikenal dengan mulainya waktu dan mulainya tempat saat seseorang Muslim melakukan ibadah. Dan diantara Kemuliaan waktu yang sebentar lagi akan menyapa kita adalah bulan suci Ramadhan. Di bulan ini ganjaran dan pahala akan dilipatgandakan. Hari-hari Ramadhan semuanya mulia, terutama saat dalam keadaan berpuasa dan menjelang berbuka, permohonan akan didengar dan doa kita akan diijabah. Karenanya jangan sampai Ramadhan yang menghampiri kita hanya setahun sekali akan berlalu tanpa ada peningkatan pada diri kita dalam beribadah kapada Allah.
Dalam Islam dikenal dengan mulainya waktu dan mulainya tempat saat seseorang Muslim melakukan ibadah. Dan diantara Kemuliaan waktu yang sebentar lagi akan menyapa kita adalah bulan suci Ramadhan. Di bulan ini ganjaran dan pahala akan dilipatgandakan. Hari-hari Ramadhan semuanya mulia, terutama saat dalam keadaan berpuasa dan menjelang berbuka, permohonan akan didengar dan doa kita akan diijabah. Karenanya jangan sampai Ramadhan yang menghampiri kita hanya setahun sekali akan berlalu tanpa ada peningkatan pada diri kita dalam beribadah kapada Allah.
Memahami Fiqh Shiyam
Agar semua jenis ibadah di bulan Ramadhan menjadi optimal, hendaknya kita menyiapkan diri dengan bekal pengetahuan tentang fiqh Shiyam, sehingga semua ritual ibadah yang kita lakukan sesuai dengan tuntunan yang diajarkan Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallahu ‘alaihi wasallama dan tidak ada sedikit pun yang menyimpang. Bila dilakukan sesuai dengan baik dan benar maka kita akan mendapatkan pahala dan ganjaran dari Allah ta’ala serta buah dari tujuan melaksanakan puasa yaitu menggapai predikat taqwa yang hanya diketahui oleh Allah ta’ala saja dapat kita peroleh.
Agar semua jenis ibadah di bulan Ramadhan menjadi optimal, hendaknya kita menyiapkan diri dengan bekal pengetahuan tentang fiqh Shiyam, sehingga semua ritual ibadah yang kita lakukan sesuai dengan tuntunan yang diajarkan Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallahu ‘alaihi wasallama dan tidak ada sedikit pun yang menyimpang. Bila dilakukan sesuai dengan baik dan benar maka kita akan mendapatkan pahala dan ganjaran dari Allah ta’ala serta buah dari tujuan melaksanakan puasa yaitu menggapai predikat taqwa yang hanya diketahui oleh Allah ta’ala saja dapat kita peroleh.
Betapa
banyak orang yang berpuasa namun sebenarnya dia tidak berpuasa karena
banyak prilaku yang dapat menghilangkan pahala puasa bahkan membatalkan
puasa itu sendiri. Di sisi lain tidak sedikit orang yang tidak boleh
berpuasa karena ada udzur/halangan yang dibenarkan syariah namun dia
melaksanakannya juga, bukan saja saja puasanya tidak diterima bahkan dia
berdosa karena masih tetap berpuasa. Karenanya mari bekali diri kita
masing-masing dengan pemahaman dan ilmu pengetahuan tentang fiqh shiyam
atau fiqh Ramadhan secara umum sehingga Ramadhan kali ini lebih baik dan
lebih bernilai dibanding dengan Ramadhan tahun-tahun lalu.
Lembaran Putih
Saat memasuki Ramadhan nanti akan terasa indah bila kita siapkan ‘lembaran’ putih lalu kita lekatkan pada diri kita saat bertemu tamu mulia yang hanya dijumpai 1 tahun sekali. Lembaran putih itu kita tujukan untuk:
• Allah ta’ala, yaitu dengan cara bertaubat taubatan nasuha, taubat yang benar bukan taubat palsu, taubat yang menjadikan kita kecanduan dengan kebaikan dan ketaatan.
• Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallama dengan cara mengikuti segala perintahnya dan menjauhi larangannya, melestarikan sunnahnya melalui praktik para shahabatnya yang mereka faham betul dengan sunnah Rasul muli, karena mereka hidup bersama Rasul akhir zaman ini Muhammad shallahu ‘alaihi wasallama
• Kedua orang tua, kerabat, isteri, suami dan anak-anak untuk selalu meningkatkan perbuatan baik kepada mereka dan pererat silaturrahim.
• Kepada masyarakat di sekitar kita untuk senantiasa menjadi teladan dan pribadi yang baik, shalih dan bermanfaat bagi mereka.
Semoga Ramadhan nanti benar-benar berbeda dari tahun-tahun lalu, semoga. Allah a’lam
Lembaran Putih
Saat memasuki Ramadhan nanti akan terasa indah bila kita siapkan ‘lembaran’ putih lalu kita lekatkan pada diri kita saat bertemu tamu mulia yang hanya dijumpai 1 tahun sekali. Lembaran putih itu kita tujukan untuk:
• Allah ta’ala, yaitu dengan cara bertaubat taubatan nasuha, taubat yang benar bukan taubat palsu, taubat yang menjadikan kita kecanduan dengan kebaikan dan ketaatan.
• Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallama dengan cara mengikuti segala perintahnya dan menjauhi larangannya, melestarikan sunnahnya melalui praktik para shahabatnya yang mereka faham betul dengan sunnah Rasul muli, karena mereka hidup bersama Rasul akhir zaman ini Muhammad shallahu ‘alaihi wasallama
• Kedua orang tua, kerabat, isteri, suami dan anak-anak untuk selalu meningkatkan perbuatan baik kepada mereka dan pererat silaturrahim.
• Kepada masyarakat di sekitar kita untuk senantiasa menjadi teladan dan pribadi yang baik, shalih dan bermanfaat bagi mereka.
Semoga Ramadhan nanti benar-benar berbeda dari tahun-tahun lalu, semoga. Allah a’lam
bila
menurut anda artikel ini bermanfaat silahkan dishare agar orang lain
juga mengambil manfaat dan pelajaran, menunjukkan kebaikan kepada orang
lain insya Allah pahala kita terus mengalir, amin.
Sumber: http://www.kabarpks.com/2013/06/tips-menyambut-ramadhan-penuh-berkah.html
























